Rabu, 25 Mei 2016

BEST PRACTISE PEMBELAJARAN CTL



PENGALAMAN TERBAIK MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA
 MATERI PELAJARAN BAHAN KIMIA
DALAM MAKANAN DI KELAS VII
 SMP NEGERI 1 LABUHAN DELI

Perjalanan 4 tahun menjadi fsilitator USAID   (Pembelajaran Kontekstual)







Disajikan pada
Lomba Guru Berprestasi
Tingkat Kabupaten Deli Serdang
Tahun 2016









Oleh :
NONA FAZIERA SARI, SPd,MSi
Unit Kerja SMP N 1 Labuhan Deli
Kabupaten Deli Serdang




DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
(DIKPORA) KABUPATEN DELISERDANG
2016







A.    LATAR BELAKANG MASALAH

            Alasan perlu diterapkannya pembelajaran kontekstual pada materi pelajaran bahan kimia dalambahan makanan  adalah :    
1). Sebagian besar waktu belajar sehari-hari di sekolah masih didominasi kegiatan penyampaian pengetahuan oleh guru, sementara siswa ”dipaksa” memperhatikan dan menerimanya, sehingga tidak menyenangkan dan memberdayakan siswa.
2). Materi pembelajaran bersifat abstrak-teoritis-akademis, tidak terkait dengan masalah-masalah yang dihadapi siswa sehari-hari di lingkungan keluarga, masyarakat, alam sekitar dan dunia kerja.
3). Penilaian hanya dilakukan dengan tes yang menekankan pengetahuan, tidak menilai kualitas dan kemampuan belajar siswa yang autentik pada situasi yang autentik.
4). Sumber belajar masih terfokus pada guru dan buku. Lingkungan sekitar belum dimanfaatkan secara optimal.
                        Terdapat perbedaan antara pembelajaran dengan CTL dan pembelajaran biasa /konvensional yakni, CTL menempatkan siswa sebagai subjek belajar, artinya siswa berperan aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan cara mengemukakan dan menggali sendiri materi pelajaran. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional siswa ditempatkan sebagai objek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif. Dalam pembelajaran CTL, siswa belajar melalui kegiatan kelompok, berdiskusi, saling menerima dan dan memberi. Sedangkan, dalam pembelajaran kovensional siswa lebih banyak belajar secara individual dengan menerima, mencatat dan menghafal materi pelajaran. Dalam CTL, pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata secara riil, sedangkan pembelajaran secara konvensional, pembelajaran bersifat teoritis dan abstrak. Dalam CTL, kemampuan didasarkan atas pengalaman, sedangkan dalam pembelajaran konvensional kemampuan diperoleh melalui latihan- latihan. Tujuan akhir dari proses pembelajaran melalui CTL adalah kepuasan diri sendiri, sedangkan pembelajaran konvensional, tujuan akhirnya adalah nilai atau angka. Dalam CTL, tindakan atau prilaku dibangun atas kesadaran diri sendiri, misalnya individu tidak melakukan prilaku tertentu karena ia menyadari bahwa prilaku itu merugikan dan tidak bermanfaat, sedangkan dalam pembelajaran konvensional, tindakan atau prilaku individu didasarkan oleh factor dari luar dirinya, misalnya individu tidak melakukan sesuatu disebabkan takut hukuman atau sekedar untuk memperoleh angka atau nilai dari guru. Dalam CTL, pengetahuan yang dimiliki setiap individu selalu berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya, oleh sebab itu setiap siswa biasa terjadi perbedaan dalam memaknai hakikat pengetahuan yang dimilikinya. Dalam pembelajaran konvensional hal ini tidak mungkin terjadi. Kebenran yang bersifat absolute dan final, oleh karena pengetahuan dikontruksi oleh orang lain. Dalam pembelajaran CTL, siswa bertanggung jawab dalam memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing- masing, sedangkan dalam pembelajaran konvensional guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran. Dalam CTL, pembelajaran bias terjadi dimana saja dalam konteks yang setting, yang berbeda sesuai dengan kebutuhan, sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran hanya terjadi didalam kelas. Oleh karena itu tujuan yang ingin dicapai adalah seluruh aspek perkembangan siswa maka dalam CTL keberhasilan pembelajaran diukur dengan berbagai cara, misalnya dengan evaluasi proses, hasil karya siswa, penampilan, rekaman, observasi, wawancara, dsb sedangkan dalam pembelajaran konvensional keberhasilan pembelajaran biasanya hanya diukur dari tes.

B.     MASALAH

            Permasalahan pembelajaran yang sering dijumpai dalam sehari hari adalah sebagai berikut :
1.      Pembelajaran  tidak menyenangkan (siswa hanya menerima informasi secara pasif) seolah-olah mereka hanya datang, duduk diam.
2.      Siswa belajar secara individual dengan menerima, mencatat dan menghafal materi pelajaran, sehingga mereka mudah bosan.
3.      Pembelajaran yang dilakukan bersifat abstrak dan teoritis.(tidak terkait dengan dunia nyata)
4.      Sulit melaksanakan penilaian autentik (penilaian sikap, keterampilan dan pengetahuan).

C.    CARA PENYELESAIAN MASSALAH

            Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut diatas berbekal sebagai fasilitator USAID yang berperan  menyampaikan penerapan pembelajaran aktif  dalam pembelajaran maka  saya melakukan pembelajaran CTL pada materi, bahan kimia dalam bahan makanan dengan mempedomani prinsif pembelajaran CTL. Secara teoritis digambarkan

clip_image002%25255B4%25255D_thumb
Secara nyata dapat saya perlihat kan seperti
Foto-foto dibawah ini:

D.    KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
a.      Simpulan.
Sebagai kesimpulan dari apa yang saya lakukan dan yang saya tulis ini  adalah :
1.      Dengan penerapan pembelajaran CTL ini siswa belajar lebih menyenangkan, siswa lebih diberdayakan atau lebih aktif.
2.       Dengan penerapan pembelajaran CTL ini siswa belajar melalui kegiatan kelompok, berdiskusi, saling menerima dan dan memberi.
3.      Dengan penerapan pembelajaran CTL ini materi pembelajaran dikaitkan dengan dunia nyata. Seperti bahan kimia yang berbahaya dan kegunaan dari bahan-bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari.
4.      Dengan penerapan pembelajaran CTL ini kita dapat melakukan penilaian sikap, keterampilan dan pengetahuan karena ada hasil karya siswa dan pengamatan saat pembuatan karya mereka dan hasil test.

b.      Rekomendasi
Sebagai rekomendasi dari karya tulis ini adalah :
1.      Kegiatan pembelajara CTL dapat meningkatkan pembelajaran siswa sehingga perlu untuk diterapkan oleh para guru, untuk menunjang pelaksanaan kurikulum 2013.
2.      Untuk melakukan penilaian autentik para guru dapat melakukan penerapan pembelajaran kontekstual.

E.     PELAJARAN YANG DIPEROLEH

Dari  hasil Best Practice yang saya alami ini saya mendapat pembelajaran:
Adalah pembelajaran lebih mudah dan menyenangkan dan sesuai dengan keinginan yang diharapkan kurikulum 2013. Selamat melaksanakan kurikulum 2013 dengan pembelajaran aktif yang salah satunya adalh CTL.


F.     DFTAR PUSTAKA

1.      Direktorat Pembinaan Pendidikan Menengah Dirjren Dikdasmen. Pedoman Penulisan Best Practice Pengawas sekolah dan guru 2015.
2.      Praktik yang baik bagi guru di SMP. Modul USAID Prioritas 2015
3.      Nur, M. 1996. Pembelajaran Kontekstual dalam Kelas IPA, Makalah Disampaikan Pada Penyegaran dan Pelatihan Penelitian Bagi Giru Pembina KIR di IKIP Surabaya. Surabaya : IKIP Surabaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar