PENGALAMAN
TERBAIK MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PADA
MATERI PELAJARAN BAHAN KIMIA
DALAM
MAKANAN DI KELAS VII
SMP NEGERI 1 LABUHAN DELI
Perjalanan 4 tahun menjadi
fsilitator USAID (Pembelajaran Kontekstual)
Disajikan
pada
Lomba
Guru Berprestasi
Tingkat
Kabupaten Deli Serdang
Tahun
2016
Oleh
:
NONA
FAZIERA SARI, SPd,MSi
Unit
Kerja SMP N 1 Labuhan Deli
Kabupaten
Deli Serdang
DINAS
PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
(DIKPORA)
KABUPATEN DELISERDANG
2016
A.
LATAR BELAKANG MASALAH
Alasan perlu diterapkannya pembelajaran kontekstual pada materi pelajaran bahan kimia dalambahan
makanan adalah :
1). Sebagian besar waktu belajar sehari-hari di sekolah masih didominasi kegiatan
penyampaian pengetahuan oleh guru, sementara siswa ”dipaksa” memperhatikan
dan menerimanya, sehingga tidak menyenangkan dan memberdayakan siswa.
2). Materi pembelajaran bersifat abstrak-teoritis-akademis, tidak terkait dengan
masalah-masalah yang dihadapi siswa sehari-hari di lingkungan keluarga, masyarakat,
alam sekitar dan dunia kerja.
3). Penilaian hanya dilakukan dengan tes yang menekankan pengetahuan, tidak menilai
kualitas dan kemampuan belajar siswa yang autentik pada situasi yang autentik.
4). Sumber belajar masih terfokus pada guru dan buku. Lingkungan sekitar belum
dimanfaatkan secara optimal.
Terdapat
perbedaan antara pembelajaran dengan CTL dan pembelajaran biasa /konvensional
yakni, CTL menempatkan siswa sebagai subjek belajar, artinya siswa berperan
aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan cara mengemukakan dan menggali
sendiri materi pelajaran. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional siswa
ditempatkan sebagai objek belajar yang berperan sebagai penerima informasi
secara pasif. Dalam pembelajaran CTL, siswa belajar melalui kegiatan kelompok,
berdiskusi, saling menerima dan dan memberi. Sedangkan, dalam pembelajaran
kovensional siswa lebih banyak belajar secara individual dengan menerima,
mencatat dan menghafal materi pelajaran. Dalam CTL, pembelajaran dikaitkan
dengan kehidupan nyata secara riil, sedangkan pembelajaran secara konvensional,
pembelajaran bersifat teoritis dan abstrak. Dalam CTL, kemampuan didasarkan
atas pengalaman, sedangkan dalam pembelajaran konvensional kemampuan diperoleh
melalui latihan- latihan. Tujuan akhir dari proses pembelajaran melalui CTL
adalah kepuasan diri sendiri, sedangkan pembelajaran konvensional, tujuan
akhirnya adalah nilai atau angka. Dalam CTL, tindakan atau prilaku dibangun
atas kesadaran diri sendiri, misalnya individu tidak melakukan prilaku tertentu
karena ia menyadari bahwa prilaku itu merugikan dan tidak bermanfaat, sedangkan
dalam pembelajaran konvensional, tindakan atau prilaku individu didasarkan oleh
factor dari luar dirinya, misalnya individu tidak melakukan sesuatu disebabkan
takut hukuman atau sekedar untuk memperoleh angka atau nilai dari guru. Dalam
CTL, pengetahuan yang dimiliki setiap individu selalu berkembang sesuai dengan
pengalaman yang dialaminya, oleh sebab itu setiap siswa biasa terjadi perbedaan
dalam memaknai hakikat pengetahuan yang dimilikinya. Dalam pembelajaran
konvensional hal ini tidak mungkin terjadi. Kebenran yang bersifat absolute dan
final, oleh karena pengetahuan dikontruksi oleh orang lain. Dalam pembelajaran
CTL, siswa bertanggung jawab dalam memonitor dan mengembangkan pembelajaran
mereka masing- masing, sedangkan dalam pembelajaran konvensional guru adalah
penentu jalannya proses pembelajaran. Dalam CTL, pembelajaran bias terjadi
dimana saja dalam konteks yang setting, yang berbeda sesuai dengan kebutuhan,
sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran hanya terjadi didalam
kelas. Oleh karena itu tujuan yang ingin dicapai adalah seluruh aspek
perkembangan siswa maka dalam CTL keberhasilan pembelajaran diukur dengan
berbagai cara, misalnya dengan evaluasi proses, hasil karya siswa, penampilan,
rekaman, observasi, wawancara, dsb sedangkan dalam pembelajaran konvensional
keberhasilan pembelajaran biasanya hanya diukur dari tes.
B. MASALAH
Permasalahan pembelajaran yang
sering dijumpai dalam sehari hari adalah sebagai berikut :
1.
Pembelajaran tidak menyenangkan
(siswa hanya menerima informasi secara pasif) seolah-olah mereka hanya datang,
duduk diam.
2.
Siswa belajar secara individual dengan menerima, mencatat dan menghafal
materi pelajaran, sehingga mereka mudah bosan.
3.
Pembelajaran yang dilakukan bersifat abstrak dan teoritis.(tidak terkait
dengan dunia nyata)
4.
Sulit melaksanakan penilaian autentik (penilaian sikap, keterampilan dan
pengetahuan).
C.
CARA PENYELESAIAN MASSALAH
Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut
diatas berbekal sebagai fasilitator USAID yang berperan menyampaikan penerapan pembelajaran aktif dalam pembelajaran maka saya melakukan pembelajaran CTL pada materi,
bahan kimia dalam bahan makanan dengan mempedomani prinsif pembelajaran CTL. Secara
teoritis digambarkan

Secara nyata dapat saya perlihat kan seperti
Foto-foto dibawah ini:
D.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
a.
Simpulan.
Sebagai
kesimpulan dari apa yang saya lakukan dan yang saya tulis ini adalah :
1.
Dengan penerapan pembelajaran CTL ini siswa belajar lebih menyenangkan,
siswa lebih diberdayakan atau lebih aktif.
2.
Dengan penerapan pembelajaran CTL
ini siswa belajar melalui kegiatan kelompok, berdiskusi, saling menerima dan
dan memberi.
3.
Dengan penerapan pembelajaran CTL ini materi pembelajaran dikaitkan
dengan dunia nyata. Seperti bahan kimia yang berbahaya dan kegunaan dari
bahan-bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari.
4.
Dengan penerapan pembelajaran CTL ini kita dapat melakukan penilaian
sikap, keterampilan dan pengetahuan karena ada hasil karya siswa dan pengamatan
saat pembuatan karya mereka dan hasil test.
b.
Rekomendasi
Sebagai
rekomendasi dari karya tulis ini adalah :
1.
Kegiatan pembelajara CTL dapat meningkatkan pembelajaran siswa sehingga
perlu untuk diterapkan oleh para guru, untuk menunjang pelaksanaan kurikulum
2013.
2.
Untuk melakukan penilaian autentik para guru dapat melakukan penerapan
pembelajaran kontekstual.
E.
PELAJARAN YANG DIPEROLEH
Dari hasil Best Practice yang saya alami ini saya
mendapat pembelajaran:
Adalah
pembelajaran lebih mudah dan menyenangkan dan sesuai dengan keinginan yang
diharapkan kurikulum 2013. Selamat melaksanakan kurikulum 2013 dengan
pembelajaran aktif yang salah satunya adalh CTL.
F.
DFTAR PUSTAKA
1.
Direktorat Pembinaan Pendidikan Menengah Dirjren Dikdasmen. Pedoman
Penulisan Best Practice Pengawas sekolah dan guru 2015.
2.
Praktik yang baik bagi guru di SMP. Modul USAID Prioritas 2015
3.
Nur, M. 1996. Pembelajaran Kontekstual dalam Kelas IPA, Makalah
Disampaikan Pada Penyegaran dan Pelatihan Penelitian Bagi Giru Pembina KIR di
IKIP Surabaya. Surabaya : IKIP Surabaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar